“Menapaki Jejak Langkah Sepanjang 15 Kilometer Kearah Ujung Bagian Selatan Dari Kota Bekasi Selama 20 Tahun. Tapi Apa Daya Tak Punya Kuasa Hingga Berupaya Menyampaikan Suara Penuh Asa (Sumber : Kata Hatiku)”
Sejak tahun 1989 (usia 4 tahun) aku tinggal di paling bagian selatan Kota Bekasi (Baca : Kec. Bantar Gebang) yang berbatasan langsung dengan Kec. Cileungsi (Kab. Bogor), tepatnya di Jalan Raya Narogong Km 15. Dari mulai SD, SMP, sampai SMU semuanya berlangsung di daerah Bekasi. Mulai dari zamannya angkot (Angkutan Perkotaan) yang pakai tenda sampai angkot yang saat ini sudah ada beberapa yang pasang TV didalamnya, yang dulu jalan raya hanya 2 lajur dan sekarang sudah 4 lajur (lebih lebar), dan masih banyak lagi perubahan-perubahan lainnya seiring dengan perkembangan zaman saat ini.
Harusnya Bantar Gebang Bisa Lebih Maju Dari “Tetangga Sebelah” !
Di bagian selatan, Kec. Bantar Gebang berbatasan langsung dengan Kec. Cileungsi (Kab. Bogor). Saat itu, tahun 90-an Bantar Gebang lebih maju daripada Cileungsi. Tetapi sejak dibangunnya akses Cileungsi – Cibubur tahun 90-an yang dulunya merupakan rawa-rawa semak belukar sekarang menjadi sebuah peradaban ekonomi baru yang cepat berkembang dan pada akhirnya aktifitas ekonomi di Cileungsi lebih menggairahkan daripada Bantar Gebang, sampai-sampai sering macet di pagi atau sore hari ketika hari kerja. Saya merasa iri, Mengapa Bantar Gebang tidak bisa ? Menurut saya, sepertinya Critical Point-nya adalah kecepatan dan kemudahan akses kearah Jakarta termasuk ketersediaan Jalan Tol.
Saya coba melihat wilayah Bantar Gebang menggunakan Peta Digital dan Google Map. Hasilnya adalah bahwa di sebelah barat Bantar Gebang, khususnya daerah Jati Asih sudah terdapat Jalan Tol, tetapi memang sampai saat ini belum ada akses langsung kearah Jalan Tol dari Pusat Bantar Gebang. Setelah saya coba telusuri yang ada hanyalah melalui Villa Nusa Indah dan Cipendawa yang jalannya masih perlu diperbaiki dan diperlebar minimal seperti akses jalan Cileungsi – Cibubur.
Idealnya dan juga sekaligus aspirasi saya untuk Bekasi (khususnya Bantar Gebang) adalah dibuatnya Ring Road baru dan/atau dibuatnya Jalan Raya yang besar dari Jati Asih – Bantar Gebang – Cibitung – Cikarang – Dst. Hal ini untuk menambah trafik dari lalu lintas ekonomi di Bantar Gebang seperti halnya kita melihat studi kasus perkembangan lalu lintas ekonomi di Cileungsi setelah dibukanya jalur Cileungsi – Cibubur (barangkali hal ini perlu dikaji kembali oleh para pakar dibidangnya dan pihak-pihak terkait lainnya).
Apa Yah ICON Bantar Gebang ?
Memang saat ini brand yang melekat pada Bantar Gebang adalah “Sampah (TPA)” tetapi saya sendiri selaku salah satu warga Bekasi (Kec. Bantar Gebang) tidak selamanya menerima kenyataan ini dan harus ada sebuah perubahan persepsi dan cara pandang terhadap nama Bantar Gebang.
Salah satu usulannya adalah mari kita mencoba membuat sebuah gebrakan baru bahwa dengan sampah bisa memiliki nilai jual yang luar biasa (bukan hanya menerima retribusi atau uang dari pemerintah DKI Jakarta sebagai kompensasi, CMIIW). Mari kita buktikan, bahwa dengan sampah kita bisa berkarya dan dengan sampah kita bisa memberdayakan ekonomi masyarakat dengan mengubah sampah menjadi barang bernilai jual tinggi (misalnya kerajinan tangan yang berskala export). Yuk mari kita rubah ICON Bantar Gebang menjadi “Pusat Kerajinan Kreatif Terbesar Di Indonesia Yang Berbasiskan Sampah”.











